SEKILAS PKPHT
Pusat Kajian Pengendalian Hama Terpadu (PKPHT) merupakan lembaga di bawah Departemen Proteksi Tanaman IPB, yang memiliki visi menjadi lembaga unggulan dalam pengembangan sumberdaya manusia Indonesia melalui penelitian, pendidikan, penyebaran ilmu dan pengembangan teknologi dalam bidang perlindungan tanaman guna mendukung pertanian berkelanjutan.
Didirikan tanggal 27 Februari 1997, PKPHT berupaya untuk menjadi motor pengembangan IPTEK PHT. Dengan program penelitian, pengabdian dan pelayanan, PKPHT berupaya untuk menggapai visi yang dimiliki.
Pelatihan di PKPHT
Pusat Kajian Pengendalian Hama Terpadu secara rutin, hampir tiap catur wulan melaksanakan pelatihan-pelatihan yang terkait dengan Hama dan Penyakit Tumbuhan dan serangga hama pada umumnya. Melalui pelatihan dan kajian ilmiah lain, PKHPT berupaya untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada siapa saja yang berminat dalam pengembangan keilmuan khususnya yang berhubungan dengan pengendalian hama terpadu.
PKPHT menawarkan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kompetensi khususnya dalam bidangproteksi tanaman. Pelatihan didesain untuk memudahkan bagi peserta baik dalam konteks materi, tempat maupun waktu pelaksanaan pelatihan. Peningkatan kompetensi bagi staf atau peneliti sangat penting dalam upaya peningkatan kinerja dan output yang dihasilkan.
Tema-tema pelatihan yang pernah dan akan dilaksanakan PKPHT :
- Pelatihan Manajemen Kesehatan Benih
- Pelatihan Identifikasi Serangga Hama Dan Penyakit Penting Pada Tanaman
- Pelatihan Diagnosis Patogen Tumbuhanmenggunakan Teknik Polymerase Chain Reaction (Pcr)
- Pelatihan Agens Hayati Dalam Rangka Pemasyarakatan PHT
- Pelatihan Pengendalian Terpadu Urban Pests Di Lingkungan Perumahan Dan Bangunan Umum
- Pelatihan Pengendalian Hayati Patogen Tumbuhan : Pengembangan Agens Biokontrol Dan Cara Aplikasi
- Pelatihan Perencanaan, Perancangan, Dan Penganalisisan Untuk Penelitian Keanekaragaman Hayati Dan Ekologi Komunitas
- Pelatihan Identifikasi Dan Pengelolaan Nematoda Parasit Utama Tumbuhan
- Pelatihan Bioekologi & Pengelolaan Tikus
- Pelatihan Klinik Penyakit Tanaman Dan Teknik Deteksi Molekuler dalam Pengelolaan Hama Terpadu
- Pelatihan Pengembangan Dan Pemanfaatan Insektisida Alami
Lebih rinci tentang pelatihan-pelatihan tersebut dijelaskan sebagai berikut :
A. PELATIHAN MANAJEMEN KESEHATAN BENIH
Dalam perannya sebagai bahan perbanyakan tanaman, benih merupakan pembawa pasif dan tempat bertahan hidup berbagai jasad renik, baik yang bersifat patogenik maupun saprofitik. Oleh karena itu benih berperan penting dalam penyebaran patogen tanaman dan insidensi penyakit di lapangan. Status kesehatan benih menentukan kualitas benih yang pada akhirnya turut menentukan keberhasilan produksi tanaman. Kesehatan benih penting dijaga sejak dari proses produksi benih, pemasaran hingga sampai di tangan petani untuk ditanam. Upaya menjaga kesehatan benih memerlukan serangkaian kegiatan pengujian untuk memastikan bahwa benih tersebut terbebas dari patogen yang dapat menyebabkan benih tidak berkembang sebagaimana mestinya. Selain itu pengujian benih dapat menekan resiko benih sebagai agen pembawa hama dan penyakit yang dapat menyebar dari satu daerah ke daerah lain.
Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman tentang pentingnya kesehatan benih, potensi benih dan mikroorganisme terbawa benih terhadap insidensi penyakit tanaman. metode pengujian dan pengelolaan kesehatan benih dan standar serta praktek pertanian yang mengacu pada pengelolaan kesehatan benih.
Materi Pelatihan Kesehatan Benih Metode Klasik
- Kebijakan pemerintah terkait penyediaan benih bermutu dan kebijakan ekspor-impor benih
- Pentingnya mutu benih dalam produksi tanaman
- Peran mikroorganisme/patogen terbawa benih terhadap mutu benih
- Metode klasik pengujian kesehatan benih, diantaranya pengamatan biji kering, blotter test, growing on test, bioassay
- Perkembangan metode biologi molekuler dalam pengujian kesehatan benih
- Metode modern pengujian kesehatan benih, diantaranya serologi (DAS_ELISA, Indirect ELISA, Agar Double Diffusion) dan Polymerase Chain Reaction (Ekstraksi DNA/RNA, Amplifikasi PCR, RT-PCR, IC-RT-PCR)
Identifikasi hama dan paogen merupakan salah satu faktor penentu dalam keberhasilan pengendalian hama dan penyakit. Pengenalan jenis-jenis hama dan pathogen dan kerusakan yang ditimbulkan merupakan langkah penting yang dapat membantu dalam menentukan strategi pengendaliannya.
Ketidaktahuan pelaku usaha pertanian terhadap hama dan penyakit tanamna sering menimbulkan inefisisensi dalam melakukan tindakan pengendalian. Sekedar contoh banyak petani menyemprot tanaman dengan insektisida padahal tanaman tersebut tidak terserang serangga, tetapi terserang oleh cendawan yang seharusnya disemprot dengan fungisida.
Beberapa jenis hama dan penyakit tanaman menunjukkan gejala kerusakan yang sangat spesifik yang mudah dikenali. Dengan demikian para praktisi yang bergerak di bidang perlindungan tanaman tanpa latar belakang pengetahuan hama dan penyakit akan sangat mudah mengenalinya tanpa prosedur ilmiah yang rumit.
Tujuan pelatihan ini adalah pengenalan jenis-jenis hama dan penyakit penting pada tanaman serta kerusakan yang ditimbulkannya bagi para praktisi yang bergerak di proteksi atau perlindungan tanaman.
Materi pelatihan :
Pengenalan jenis-jenis hama penting tanaman
Pengenalan jenis-jenis kerusakan oleh hama penting pada tanaman
Pengenlaan jenis-jenis pathogen penyebab penyakit tanaman
Pengenalan gejala penyakit pada tanaman
C. PELATIHAN DIAGNOSIS PATOGEN TUMBUHANMENGGUNAKAN TEKNIK POLYMERASE CHAIN REACTION (PCR)
Dalam era globalisasi, lalu lintas perdagangan produk pertanian menjadi sangat meluas. Bersama dengan produk pertanian tersebut, patogen tumbuhan dapat terbawa sehingga menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia, yang dapat menjadi ancaman bagi ketahanan pangan. Untuk itu pencegahan dan pengendalian yang tepat terhadap keberadaan patogen tersebut perlu dilakukan. Hal tersebut membutuhkan pengetahuan yang akurat tentang patogen tumbuhan dan teknik diagnosis yang handal.
Berbagai teknik diagnosis patogen tumbuhan yang mudah dan akurat telah banyak dilaporkan, salah satunya adalah teknik polymerase chain reaction (PCR). PCR merupakan teknik in vitro yang bersifat enzimatik untuk menggandakan DNA. Dari sejak ditemukan, teknik PCR telah digunakan secara luas dan telah dimodifikasi untuk memenuhi kebutuhan berbagai keperluan seperti biologi molekular secara umum serta diagnosis patogen tumbuhan secara khusus. Modifikasi teknik PCR diantaranya adalah Reverse Transcription-PCR (RT-PCR), Restriction Fragment Length Polymorphism -PCR (PCR-RFLP), Random Amplified Polymorphism DNA (RAPD), multiplex PCR, dan PCR untuk perunutan DNA. Tingkat sensitifitas teknik ini sangat tinggi yaitu dapat menggandakan hanya 1 molekul DNA. PCR juga telah dikembangkan untuk diagnosis patogen tumbuhan dengan tingkat keakuratan tinggi misalnya untuk patogen dengan konsentrasi yang sangat rendah, atau patogen yang menyebabkan gejala laten.
Tujuan pelatihan ini adalah untuk meningkatkan pemahaman tentang prinsip dan aplikasi teknik PCR dalam diagnosis penyakit tumbuhan, mempelajari tahapan-tahapan yang digunakan dalam teknik PCR dan meningkatkan ketrampilan dalam aplikasi teknik PCR
Materi Pelatihan :
Pengenalan dan pendalaman beberapa metode yang didasarkan pada prinsip kerja teknik PCR yang umum digunakan untuk melakukan diagnosis dan identifikasi penyebab penyakit tumbuhan dari kelompok bakteri, cendawan, nematoda, dan virus. Beberapa metode yang akan dicakup adalah Reverse Transcription (RT)- PCR, Restriction Fragment Length Polymorphism (RFLP)-PCR, Random Amplified Polymorphism DNA (RAPD)-PCR
D. PELATIHAN AGENS HAYATI DALAM RANGKA PEMASYARAKATAN PHT
Inti dari Pengendalian Hama Terpadu (PHT) adalah pengendalian hayati dengan menggunakan agens hayati. Tujuannya adalah agar mengurangi ketergantungan pertanian terhadap insektisida sintetik. Konsep pengendalian hayati adalah mempelajari dan memanfaatkan hubungan tanaman-seragga hama/penyakit tanaman - agens hayati serta insektisida botanis sehingga kerusakan pada hasil pertanian berada pada ambang ekonomi yang aman. Agens hayati meliputi serangga/laba-laba/tungau predator , serangga parasitoid, patogen serangga, dan organisme antagonis.
Agar dapat memanfaatkan agens hayati seoptimal mungkin untuk praktek pertanian, perlu dipelajari bioekologi agens hayati, manipulasi/modifikasi lingkungan dan upaya konservasi agens hayati.
Materi pelatihan :
1. Bakteri patogen serangga
2. Cendawan patogen serangga
3. Organisasi di Deptan dan kebijakan perlindungan tanaman di Indonesia
4. Pemanfaatan agens hayati dan insektisida botanis dalam PHT
5. Pengembangan dan pemanfaatan bakteri perakaran pemicu pertumbuhan tanaman (PGPR)
6. Pengembangan dan pemanfaatan cendawan antagonis
7. Pengembangan dan pemanfaatan insektisida botani
8. Pengembangan dan pemanfaatan nematoda patogen serangga
9. Pengembangan dan pemanfaatan parasitoid
10. Pengembangan dan pemanfaatan predator
11. Virus patogen serangga
E. PELATIHAN PENGENDALIAN TERPADU URBAN PESTS DI LINGKUNGAN PERUMAHAN DAN BANGUNAN UMUM
Rayap, semut, lipas, dan kecoa adalah jenis-jenis “urban pests” yang seringkali menimbulkan perma-salahan di lingkungan perumahan dan bangunan umum. Selain kerugian material, semut dan lipas juga dapat menyebabkan gangguan kenyamanan dan kesehatan bagi penghuni rumah. Berbagai cara dapat dilakukan untuk meminimalkan atau mencegah kehadiran “urban pest” tersebut. Pengetahuan tentang cara hidup “urban pests” dan teknik-teknik pengendalian mutakhir yang efektif sangat menentukan keberhasilan pengendalian yang dilakukan. Dengan mengikuti pelatihan ini peserta akan memperoleh bekal pengetahuan dan keterampilan dalam menangani kasus-kasus “urban pest” di lingkungan perumahan dan bangunan lainnya.
Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman peserta tentang permasalahan “urban pest”. meningkatkan pengetahuan peserta tentang pengenalan jenis-jenis rayap, semut dan lipas di Indonesia, dan meningkatkan keterampilan peserta dalam mengendalikan rayap, semut, dan lipas di lingkungan perumahan, hotel, restoran dan bangunan umum lainnya.
Materi Pelatihan :
1. Basic Entomology
2. Urban Pest Management
3. Termites
4. Ants
5. Cockroaches
6. Building inspection for pest entry
7. Insecticides
8. Application Technology and Equipment
9. Termite baiting systems
10. Liquid termiticide treatment
11. Computer lab. – Surfing for information
F. PELATIHAN PENGENDALIAN HAYATI PATOGEN TUMBUHAN : PENGEMBANGAN AGENS BIOKONTROL DAN CARA APLIKASI
Untuk pengendalian hama dan penyakit, petani masih banyak menggunakan pesetisida hingga saat ini. Selain karena kekuatiran akan gagal panen, juga karena kurangnya pemahaman pentingnya prinsip dasar ekosistem atau agroekosistem dalam keberhasilan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT). Sebenarnya dalam suatu ekosistem pertanaman yang sehat terdapat berbagai faktor yang saling berinteraksi yang menyebabkan populasi patogen dalam kondisi terkendali secara alami oleh adanya agens antagonis. Dalam pengembangan pengendalian hayati maka seleksi, identifikasi dan determinasi mekanisme biokontrol merupakan tahap yang paling kritis. Keberhasilan semua tahap lain dalam pengembangan agens biokoktrol sangat bergantung kepada kepada kemampuan melakukan seleksi, identifikasi dan mendeterminasi mekanisme antagonisme tehadap suatu patogen.
Tujuan pelatihan :
Meningkatkan kemampuan dalam melakukan seleksi, identifikasi mekanisme antagonisme suatu kandidat agens antagonis serta memformulasikan agens antagonis agar dapat berfungsi efektif dan efisien dalam pengendalian patogen.
Materi Pelatihan
1. Isolasi dan identifikasi mikoorganisme calon agens antagonis serta uji potensi antagonis
2. Identifikasi mekanisme dan formulasi
3. Meningkatkan/menginduksi aktifitas pengendalian hayati alami dengan aplikasi teknik budidaya
G. PELATIHAN PERENCANAAN, PERANCANGAN, dan PENGANALISISAN untuk PENELITIAN KEANEKARAGAMAN HAYATI dan EKOLOGI KOMUNITAS
Dewasa ini banyak tersedia perangkat lunak/software yang dapat digunakan untuk membantu merancang atau menganalisis data penelitian. Demikian juga untuk keperluan penelitian ekologi, tersedia beberapa perangkat lunak yang dirancang khas/spesifik. Perangkat lunak ini dapat membantu perancangan penelitian dan analisis data supaya lebih efisien.
Sehubungan dengan hal tersebut, dalam upaya sosialisasi dan penyebaran teknologi yang ada maka PKPHT akan mengadakan pelatihan “Perencanaan,Perancangan, dan Penganalisisan untuk Penelitian Keanekaragaman Hayati dan Ekologi Komunitas”.
Pelatihan ini bertujuan untuk mempelajari metode penarikan contoh, manganalisis data dan mempelajari penggunaan software.
Materi Pelatihan
1. Kerangka pendekatan penelitian ekologi komunitas
2. Metode penarikan contoh
3. Pengelolaan data dasar (data base) penelitian ekologi komunitas
4. Perancangan pengambilan contoh
5. Teori analis data kekayaan spesies dan keragaman α
6. Aplikasi pengelolaan data kekayaan spesies dan keragaman α
7. Analisis kualitatif dan pictorial data komposisi fungsional komunitas
8. Teori analisis data keragaman β
9. Aplikasi pengolahan data keragaman β
10. Kapita selekta dan Penelitian ekologi komunitas
11. Ekosistem alami dan Penelitian ekologi komunitas
12. Agroekosistem dan penggunaan penginderaan jarak jauh dalam penelitian ekologi komunitas
H. PELATIHAN IDENTIFIKASI DAN PENGELOLAAN NEMATODA PARASIT UTAMA TUMBUHAN
Sehubungan dengan hal tersebut, dalam upaya sosialisasi dan penyebaran teknologi yang ada maka PKPHT akan mengadakan pelatihan “Perencanaan,Perancangan, dan Penganalisisan untuk Penelitian Keanekaragaman Hayati dan Ekologi Komunitas”.
Pelatihan ini bertujuan untuk mempelajari metode penarikan contoh, manganalisis data dan mempelajari penggunaan software.
Materi Pelatihan
1. Kerangka pendekatan penelitian ekologi komunitas
2. Metode penarikan contoh
3. Pengelolaan data dasar (data base) penelitian ekologi komunitas
4. Perancangan pengambilan contoh
5. Teori analis data kekayaan spesies dan keragaman α
6. Aplikasi pengelolaan data kekayaan spesies dan keragaman α
7. Analisis kualitatif dan pictorial data komposisi fungsional komunitas
8. Teori analisis data keragaman β
9. Aplikasi pengolahan data keragaman β
10. Kapita selekta dan Penelitian ekologi komunitas
11. Ekosistem alami dan Penelitian ekologi komunitas
12. Agroekosistem dan penggunaan penginderaan jarak jauh dalam penelitian ekologi komunitas
H. PELATIHAN IDENTIFIKASI DAN PENGELOLAAN NEMATODA PARASIT UTAMA TUMBUHAN
Nematoda parasit merupakan salah satu organisme pengganggu utama dalam budidaya tanaman. Tidak kurang dari 1200 jenis nematoda menjadi parasit utama pada berbagai komoditas tanaman pangan, sayuran, buah-buahan, tanaman hias, rumput padang golf, tanaman perkebunan dan hutan. Kerugian akibat serangan nematoda diseluruh dunia ditaksir mencapai 78 milyar dolar Amerika per tahun
Era perdagangan bebas akan berdampak masuknya fitonematoda dan OPT asing lain ke Indonesia seperti yang baru saja terjadi pada nematoda sista kuning/NSK (Globodera spp.) kentang. Kemampuan mendeteksi atau mengidentifikasi fitonematoda, tidak hanya berguna dalam mencegah masuknya fitonematoda dari luar, juga bermanfaat untuk mengontrol produk pertanian ekspor. Ekspor produk pertanian bisa ditolak kalau tercemar nematoda.
Ciri/karakter morfologi hingga saat ini masih dapat diandalkan untuk identifikasi fitonematoda. Karena ukurannya yang mikroskopik, diperlukan teknik-teknik khusus untuk mengambil contoh tanah/akar, memisahkannya dari tanah/akar, persiapan preparat dan pengamatan morfo-anatomi secara mikroskopik.
Pelatihan ini bertujuan untuk : mengenal nematoda parasit tumbuhan yang penting di Indonesia, mempelajari teknik-teknik yang digunakan dalam identifikasi nematoda , dan mengenal prinsip-prinsip manajemen nematoda parasit tumbuhan di lapang
Materi Pelatihan
1. Teknik ekstraksi nematoda dari jaringan tanaman dan tanah
2. Teknik identifikasi nematoda tumbuhan dengan pengamatan karakter/ciri morfologi
3. Teknik pembuatan preparat semi permanen
4. Prinsip-prinsip pengelolaan nematoda di lapangan
5. Fieldtrip
I. PELATIHAN BIOEKOLOGI & PENGELOLAAN TIKUS
Salah satu jenis organisme pengganggu yang menjadi masalah penting dalam dunia pertanian dan permukiman adalah tikus. Masalah tikus di Indonesia dewasa ini banyak mendapat perhatian, baik dari kalangan peneliti maupun praktisi pertanian dan permukiman. Serangan tikus di persawahan dapat mengurangi hasil panen hampir mencapai 100 %. Disamping menimbulkan gangguan di gudang, supermarket, hotel, restoran, perkantoran dan perumahan, tikus juga berperan menularkan penyakit leptospirosis bagi manusia.
Dalam rangka membantu meningkatkan pemahaman peneliti dan praktisi pertanian/permukiman terhadap permasalahan tikus tersebut, PKPHT menawarkan program pelatihan tentang bioekologi dan pengelolaan tikus.
Tujuan pelatihan ini adalah untuk mempelajari teknik dasar identifikasi dan koleksi tikus, mempelajari dasar-dasar perilaku dan ekologi tikus, mempelajari dasar-dasar pengelolaan tikus.
Materi Pelatihan
J. PELATIHAN KLINIK PENYAKIT TANAMAN DAN TEKNIK DETEKSI MOLEKULER DALAM PENGELOLAAN HAMA TERPADU
Keberadaan klinik tanaman dapat digunakan untuk meningkatkan peran fitopatologi dalam pembangunan pertanian yang berkelanjutan. Klinik tanaman yang bertugas menangani penyakit tanaman mempunyai fungsi utama sebagai tempat untuk diagnosis penyakit tanaman. Klinik tanaman juga berfungsi untuk mengembangkan teknik-teknik diagnostik, mendeskripsi penyakit tanaman yang baru, mendukung proyek penelitian lapangan, dan sebagai pusat penyebaran informasi pengendalian serta pengumpulan informasi survei penyakit tanaman.
Untuk meningkatkan jumlah dan mutu klinik tanaman yang dapat melayani para petani atau pengusaha agribisnis, maka perlu dibuka suatu jaringan kerjasama untuk mengembangkan klinik tanaman di beberapa lembaga pendidikan maupun penelitian pertanian di Indonesia. Klinik-klinik tanaman itu harus dikelola oleh tenaga-tenaga ahli yang menguasai pengelolaan klinik tanaman dan beberapa teknik yang relevan. Workshop atau lokakarya ini adalah salah satu bentuk usaha untuk memenuhi kebutuhan sumberdaya manusia yang diperlukan oleh klinik-klinik tanaman yang segera akan berkembang di Indonesia.
Materi Pelatihan
1. Plant Clinic – Experience in SAC, Scotland
2. Peranan Klinik Tanaman dan Pengembangannya di Indonesia
3. Prinsip Deteksi Molekuler untuk Mikroorganisme
4. Diagnosis Penyakit Tanaman (Virus, Bakteri, Cendawan dan Nematoda)
5. Prinsip Identifikasi Serangga Hama
6. Pengembangan Kit Deteksi Penyakit di Indonesia
7. Pengelolaan Klinik Tanaman Penyampaian materi di atas akan dilakukan dalam bentuk kuliah di kelas dan praktik di laboratorium, disertai pula diskusi mengenai permasalahan yang berhubungan dengan topik pengelolaan klinik tanaman di bidang pertanian.
K. PELATIHAN PENGEMBANGAN DAN PEMANFAATAN INSEKTISIDA ALAMI
Indonesia memiliki sumberdaya hayati yang melimpah, termasuk sumberdaya nabati. Sejumlah bahan tumbuhan yang disiapkan secara sederhana dan murah telah dimanfaatkan secara lokal untuk pengendalian hama tanaman. Sebagai contoh, tanaman Chrysanthemum cinerariaefolium dan Azadirachta indica masing-masing sebagai sumber piretrum dan azadirakhtin, cacing laut Lumbriconereis heteropoda sebagai sumber nereistoksin, serta mikroorganisme tanah Streptomyces avermitilis dan Saccharopolyspora spinosa masing-masing seba-gai sumber avermektin dan spinosad.
Potensi sumberdaya hayati Indonesia sebagai sumber insektisida tidak dapat dipungkiri memang cukup besar. Namun, pemanfaatan insektisida alami untuk pe-ngendalian hama sampai saat ini masih terbatas. Minat perusahaan swasta untuk mengembangkan insektisida alami dari kekayaan alam Indonesia pun sangat terbatas. Untuk meningkatkan peranan insektisida alami dalam pengendalian hama terpadu (PHT), diperlukan strategi yang jitu dalam pengembangan produk yang layak guna.
Tujuan :
1. Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat ilmiah dalam pengembangan produk insektisida alami yang layak guna.
2. Meningkatkan pemanfaatan sumberdaya hayati Indonesia sebagai sumber insektisida alami yang ramah lingkungan.
3. Untuk meningkatkan peran bahan pengendalian ramah lingkungan dalam PHT.
Materi Pelatihan
Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi
PUSAT KAJIAN PENGENDALIAN HAMA TERPADU
DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN, INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Jl. Kamper, Kampus IPB Dramaga, Bogor 16680
Telp: 0251-8629364, Fax: 0251-8629362
Email: pkpht.ipb@gmail.com
Surat permohonan perihal pelatihan diharapkan dikirim paling lambat 1 bulan sebelum waktu pelaksanaan pelatihan yang diinginkan.
Era perdagangan bebas akan berdampak masuknya fitonematoda dan OPT asing lain ke Indonesia seperti yang baru saja terjadi pada nematoda sista kuning/NSK (Globodera spp.) kentang. Kemampuan mendeteksi atau mengidentifikasi fitonematoda, tidak hanya berguna dalam mencegah masuknya fitonematoda dari luar, juga bermanfaat untuk mengontrol produk pertanian ekspor. Ekspor produk pertanian bisa ditolak kalau tercemar nematoda.
Ciri/karakter morfologi hingga saat ini masih dapat diandalkan untuk identifikasi fitonematoda. Karena ukurannya yang mikroskopik, diperlukan teknik-teknik khusus untuk mengambil contoh tanah/akar, memisahkannya dari tanah/akar, persiapan preparat dan pengamatan morfo-anatomi secara mikroskopik.
Pelatihan ini bertujuan untuk : mengenal nematoda parasit tumbuhan yang penting di Indonesia, mempelajari teknik-teknik yang digunakan dalam identifikasi nematoda , dan mengenal prinsip-prinsip manajemen nematoda parasit tumbuhan di lapang
Materi Pelatihan
1. Teknik ekstraksi nematoda dari jaringan tanaman dan tanah
2. Teknik identifikasi nematoda tumbuhan dengan pengamatan karakter/ciri morfologi
3. Teknik pembuatan preparat semi permanen
4. Prinsip-prinsip pengelolaan nematoda di lapangan
5. Fieldtrip
I. PELATIHAN BIOEKOLOGI & PENGELOLAAN TIKUS
Salah satu jenis organisme pengganggu yang menjadi masalah penting dalam dunia pertanian dan permukiman adalah tikus. Masalah tikus di Indonesia dewasa ini banyak mendapat perhatian, baik dari kalangan peneliti maupun praktisi pertanian dan permukiman. Serangan tikus di persawahan dapat mengurangi hasil panen hampir mencapai 100 %. Disamping menimbulkan gangguan di gudang, supermarket, hotel, restoran, perkantoran dan perumahan, tikus juga berperan menularkan penyakit leptospirosis bagi manusia.
Dalam rangka membantu meningkatkan pemahaman peneliti dan praktisi pertanian/permukiman terhadap permasalahan tikus tersebut, PKPHT menawarkan program pelatihan tentang bioekologi dan pengelolaan tikus.
Tujuan pelatihan ini adalah untuk mempelajari teknik dasar identifikasi dan koleksi tikus, mempelajari dasar-dasar perilaku dan ekologi tikus, mempelajari dasar-dasar pengelolaan tikus.
Materi Pelatihan
- Koleksi dan Identifikasi Tikus
- Pengenalan Tikus dan Musuh Alaminya
- Dasar-dasar Perilaku dan Ekologi Tikus
- Dasar-dasar Pengelolaan Tikus
- Pengelolaan Tikus di Habitat, Persawahan, Perkebunan, dan Permukiman
- Prosedur Penelitian Tikus di Laboratorium dan Lapangan
J. PELATIHAN KLINIK PENYAKIT TANAMAN DAN TEKNIK DETEKSI MOLEKULER DALAM PENGELOLAAN HAMA TERPADU
Keberadaan klinik tanaman dapat digunakan untuk meningkatkan peran fitopatologi dalam pembangunan pertanian yang berkelanjutan. Klinik tanaman yang bertugas menangani penyakit tanaman mempunyai fungsi utama sebagai tempat untuk diagnosis penyakit tanaman. Klinik tanaman juga berfungsi untuk mengembangkan teknik-teknik diagnostik, mendeskripsi penyakit tanaman yang baru, mendukung proyek penelitian lapangan, dan sebagai pusat penyebaran informasi pengendalian serta pengumpulan informasi survei penyakit tanaman.
Untuk meningkatkan jumlah dan mutu klinik tanaman yang dapat melayani para petani atau pengusaha agribisnis, maka perlu dibuka suatu jaringan kerjasama untuk mengembangkan klinik tanaman di beberapa lembaga pendidikan maupun penelitian pertanian di Indonesia. Klinik-klinik tanaman itu harus dikelola oleh tenaga-tenaga ahli yang menguasai pengelolaan klinik tanaman dan beberapa teknik yang relevan. Workshop atau lokakarya ini adalah salah satu bentuk usaha untuk memenuhi kebutuhan sumberdaya manusia yang diperlukan oleh klinik-klinik tanaman yang segera akan berkembang di Indonesia.
Materi Pelatihan
1. Plant Clinic – Experience in SAC, Scotland
2. Peranan Klinik Tanaman dan Pengembangannya di Indonesia
3. Prinsip Deteksi Molekuler untuk Mikroorganisme
4. Diagnosis Penyakit Tanaman (Virus, Bakteri, Cendawan dan Nematoda)
5. Prinsip Identifikasi Serangga Hama
6. Pengembangan Kit Deteksi Penyakit di Indonesia
7. Pengelolaan Klinik Tanaman Penyampaian materi di atas akan dilakukan dalam bentuk kuliah di kelas dan praktik di laboratorium, disertai pula diskusi mengenai permasalahan yang berhubungan dengan topik pengelolaan klinik tanaman di bidang pertanian.
K. PELATIHAN PENGEMBANGAN DAN PEMANFAATAN INSEKTISIDA ALAMI
Indonesia memiliki sumberdaya hayati yang melimpah, termasuk sumberdaya nabati. Sejumlah bahan tumbuhan yang disiapkan secara sederhana dan murah telah dimanfaatkan secara lokal untuk pengendalian hama tanaman. Sebagai contoh, tanaman Chrysanthemum cinerariaefolium dan Azadirachta indica masing-masing sebagai sumber piretrum dan azadirakhtin, cacing laut Lumbriconereis heteropoda sebagai sumber nereistoksin, serta mikroorganisme tanah Streptomyces avermitilis dan Saccharopolyspora spinosa masing-masing seba-gai sumber avermektin dan spinosad.
Potensi sumberdaya hayati Indonesia sebagai sumber insektisida tidak dapat dipungkiri memang cukup besar. Namun, pemanfaatan insektisida alami untuk pe-ngendalian hama sampai saat ini masih terbatas. Minat perusahaan swasta untuk mengembangkan insektisida alami dari kekayaan alam Indonesia pun sangat terbatas. Untuk meningkatkan peranan insektisida alami dalam pengendalian hama terpadu (PHT), diperlukan strategi yang jitu dalam pengembangan produk yang layak guna.
Tujuan :
1. Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat ilmiah dalam pengembangan produk insektisida alami yang layak guna.
2. Meningkatkan pemanfaatan sumberdaya hayati Indonesia sebagai sumber insektisida alami yang ramah lingkungan.
3. Untuk meningkatkan peran bahan pengendalian ramah lingkungan dalam PHT.
Materi Pelatihan
- Prospek pemanfaatan insektisida alami dalam PHT.
- Sumber insektisida alami: tumbuhan, hewan laut, mikrob tanah
- Strategi pengembangan insektisida alami layak guna
- Metode ekstraksi dan isolasi bahan aktif.
- Identifikasi senyawa aktif berdasar data spektroskopi.
- Studi kasus: isolasi dan identifikasi senyawa insektisida turunan rokaglamida dari tanaman Aglaia spp. (Meliaceae).
- Metode uji hayati.
- Analisis data uji hayati: Analisis tanggap kuantal dengan peubah pemer-tela tunggal, Analisis tanggap kuantal politomi, Strategi pemanfaatan insektisida alami dalam PHT.
- Pemanfaatan insektisida alami di tingkat petani.
Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi
PUSAT KAJIAN PENGENDALIAN HAMA TERPADU
DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN, INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Jl. Kamper, Kampus IPB Dramaga, Bogor 16680
Telp: 0251-8629364, Fax: 0251-8629362
Email: pkpht.ipb@gmail.com
Surat permohonan perihal pelatihan diharapkan dikirim paling lambat 1 bulan sebelum waktu pelaksanaan pelatihan yang diinginkan.
bagaimana prosuder mengikuti pelatihan pengendalian hama penyaki tanaman di IPB bagi kalangan masyarakat,perseorangan.
BalasHapusterimakasih.